ya itu mungkin yang tengah beberapa orang alami sekarang (termasuk saya)....
menyebalkan emang jika kita berhubungan dengan sesorang tanpa kejelasan status tentang nama dari hubungan itu. terkadang saya sendiri berusaha menikmati semua itu, tapi kadang juga datang saat kita benar-benar membutuhkan suatu kejelasan dalam sebuah hubungan. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, hubungan seperti ini terjadi akibat kedua belah pihak belum sepakat secara utuh untuk menyatakan sebuah hubungan. Jika cuma salah satu pihak saja yang berinisiatif , yang terjadi justru malah cek-cok yang berakhir dengan emosi dan perpisahan yang tak semestinya terjadi. Jadi terkadang, kedua pihak cenderung tetap bersikap apa adanya menikmati tiap momen yang terjadi tanpa bisa protes.
Hubungan saya pribadi, kenapa bisa saya sebut sebagai HTS "Hubungan Tanpa Status" karena hubungan kami memang sama-sama tak jelas. kami berdua sama-sama tak mau untuk menyatakan atau mungkin lebih memilih untuk tetap diam dan menyembunyikan , karena menghindari akan adanya pihak yang akan lebih terluka. Bukan karena hubungan kami terlarang , tapi karena memang tidak memungkinkan bagi kami untuk memperjelas hubungan ini. Oleh karena itu, kami sepakat untuk tetap menjalin HTS "hubungan Tanpa Status". Tapi terkadang orang-orang menganggap bahwa ini hanya sekedar PHP "Pemberi Harapan Palsu". Jujur saja saya ga setuju karena bagi saya dua hubungan itu berbeda sama sekali.Bagi saya HTS memiliki kualitas yang lebih baik ketimbanh sekedar PHP. Karena dalam HTS meskipun tak ada publikasi resmi akan sebuah hubungan , tapi wujub dari hubungan tersebut sangatlah nyata. HTS itu memiliki hubungan yang jelas, hanya saja dia tak bernama dengan alasan tertentu. Sedangkan PHP itu hanya sekedar hubungan sebagai pelampiasan dan pelarian dari kesepian atau bahkan kejenuhan dari hubungan yang sesungguhnya, sehingga si "PHP" ini mencari tempa lain untuk mencari muara, dengan kata lain "PHP" itu ngga Serius!..So jangan samakan antara PHP dengan HTS...
Minggu, 06 Oktober 2013
HTS bukan berarti PHP
ya itu mungkin yang tengah beberapa orang alami sekarang (termasuk saya)....
menyebalkan emang jika kita berhubungan dengan sesorang tanpa kejelasan status tentang nama dari hubungan itu. terkadang saya sendiri berusaha menikmati semua itu, tapi kadang juga datang saat kita benar-benar membutuhkan suatu kejelasan dalam sebuah hubungan. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, hubungan seperti ini terjadi akibat kedua belah pihak belum sepakat secara utuh untuk menyatakan sebuah hubungan. Jika cuma salah satu pihak saja yang berinisiatif , yang terjadi justru malah cek-cok yang berakhir dengan emosi dan perpisahan yang tak semestinya terjadi. Jadi terkadang, kedua pihak cenderung tetap bersikap apa adanya menikmati tiap momen yang terjadi tanpa bisa protes.
Hubungan saya pribadi, kenapa bisa saya sebut sebagai HTS "Hubungan Tanpa Status" karena hubungan kami memang sama-sama tak jelas. kami berdua sama-sama tak mau untuk menyatakan atau mungkin lebih memilih untuk tetap diam dan menyembunyikan , karena menghindari akan adanya pihak yang akan lebih terluka. Bukan karena hubungan kami terlarang , tapi karena memang tidak memungkinkan bagi kami untuk memperjelas hubungan ini. Oleh karena itu, kami sepakat untuk tetap menjalin HTS "hubungan Tanpa Status". Tapi terkadang orang-orang menganggap bahwa ini hanya sekedar PHP "Pemberi Harapan Palsu". Jujur saja saya ga setuju karena bagi saya dua hubungan itu berbeda sama sekali.Bagi saya HTS memiliki kualitas yang lebih baik ketimbanh sekedar PHP. Karena dalam HTS meskipun tak ada publikasi resmi akan sebuah hubungan , tapi wujub dari hubungan tersebut sangatlah nyata. HTS itu memiliki hubungan yang jelas, hanya saja dia tak bernama dengan alasan tertentu. Sedangkan PHP itu hanya sekedar hubungan sebagai pelampiasan dan pelarian dari kesepian atau bahkan kejenuhan dari hubungan yang sesungguhnya, sehingga si "PHP" ini mencari tempa lain untuk mencari muara, dengan kata lain "PHP" itu ngga Serius!..So jangan samakan antara PHP dengan HTS...
Krisis Tanggung Jawab Remaja
Kehidupan remaja jaman sekarang memang jauh berbeda jika dibandingkan dengan remaja jaman dulu,,, Jauuuuhhh banget malah. Sempat saya mendengar komentar dari kakak kelas yang Cuma beda 3 tahun dari saya saja menganggap perubahan gaya pergaulan remaja , terkhusus adek kelas mereka sekarang memang sudah berbeda. Menurut mereka, remaja jaman sekarang terlalu mengandalkan kecanggihan teknologi dan juga semakin malas dengan tantangan yang ditawarkan oleh dunia nyata. Mereka lebih nyaman dengan kehidupan maya mereka. Mereka selalu berusaha, untuk sebisa mungkin memanfaatkan apapun yang ada di sekitar mereka demi kenyamanan mereka. Oke lah itu bukan hal yang terlalu buruk, tapi kalo yang dimanfaatkan itu teman sendiri yang juga notabennya punya kepentingan sama dan kebutuhan yang sama, sedang mereka hanya benar- menjadi parasit yang memanfaatkan seluruh sumber daya dari kehidupan teman mereka itu, apa itu bukan suatu EKSPLOITASI MANUSIA????
Kakak kelas saya itu juga terkadang merasa miris dengan perubahan yang terjadi,,,” jangankan teman sendiriyang memang dekat, kakak kelas pun juga kalo bisa diperas abis” itu pernah saya dengar sepintas dari mulut seorang senior kita. Sampai segitukah??? Saya sendiri sebagai generasi remaja jaman sekarang terkadang juga merasa muak dengan kelakuan para rekan segenerasi ini. Mereka selalu menganggap bahwa teman-teman mereka yang memiliki kemampuan lebih, khususnya dalam bidang akademik, bisa dimanfaatkan demi membantu nilai mereka. Okelah kalo ini alas an masih bisa ditolelir dengan catatan mereka juga ikut memperhatikan. Tapi kalo yang yang “memanfaatkan” itu memiliki kemampuan yang sama dengan yang dimanfaatkan,, saya rasa itu bukan karena factor nilai , tapi lebih karena mereka terlalu “MALAS” untuk mengerjakan. Mereka selalu beralasan klise seperti “ sibuk nih” “hari ini aku ada rapat, les, ketemu ma ortu dll” “aku ga ngerti, kan kamu yang rekap data”, dkk. Rasanya tiap denger kata-kata itu, otakku bener-bener ga terima dengan alas an bodoh itu. Rasa-rasanya jika sampai saya menerima alasan itu , saya khawatir suatu saat saya juga akan menjadi seperti mereka. Ya… mungkin hal itu yang menjadikan saya , sebagai individu yang cukup dingin terhadap” remaja “ macam itu. Bahkan terkadang tak Cuma sikapku yang dingin , tapi juga nada bicara saya akan menjadi sangat cuek, dan terkesan tak peduli saking kesalnya. Apalagi kalo yang jadi korban itu saya. Uuuh. .. jangan harap jika “hal itu” dilakukan pada saya , saya hanya akan diam ditempat, dan hanya senyum-senyum sinis. No way! Yang terjadi akan lebih dari itu. Karena saya adalah tipe orang yang akan bersikap dingin pada orang-orang yang tak kusuka. Bahkan terkadang oamongan saya pun bisa berubah dari biasanya jika saya berbicara dengan “teman” saya. Ya mungkin sikap saya ini akan dianggap tidak solid atau apalah itu, tapi ini merupakan benteng saya terhadap sikap-sikap memuakkan yang ada disekeliling saya. Ok, bahasan tentang saya cukup sampai disini. Mari kita lanjutkan tentang “remaja” generasi sekarang ini.
Banyak di antara kalian yang mungkinsekarang juga segenari dengan saya juga pernah mengalami hal sama dengan saya. Lalu jika anda tak suka dengan hal seperti itu apa kalian akan tetap membiarkannya? Apa kalian akan membiarkannya tetap berkemnag seperti sel kanker yang mendadak sudah sampai stadium akhir tanpa terdeteksi?? Ya aku harap kalian mengerti dengan kata- kata ku ini. Tapi mungkin aku akan menjelaskannya sedikit. Sikat “memanfaatkan” ini jika dibiarkan tanpa adanya saringan dari pribadi masing-masing , tanpa disadari akan berkembang menjadi “kebiasaan”, bahkan mungkin “kebuadayaan” sebagaimana halnya dengan ”kebudayaan” korup dalam system kenegaraan kita. Saya secara pribadi sangat khawatir dengan perkembangan jaman ini, bukan karena saya tak suka atau pun menolak akan adanya perubahan, justru sebaliknya, saya selalu percaya bahwa tiap detiknya kehidupan di dunia ini akan selalu berubah, karena dengan perubahan itulah kita bisa tetap hidup dan menjadi manusia yang sebenarnya, manusia yang sadar dan waras. Tapi yang jadi masalah kebanyakan dari kita belum benar-benar siap akan perubahan yang terjadi. Mereka hanya “merasa” siap tanpa adanya keyakinan pada kemampuan diri mereka untuk menyaringnya.
Dari sekian banyak hal yang terjadi dalam perubahan kehidupan, hal paling membuat saya concern yaitu tentang “tanggung jawab” .Saya rasa tanggung jawab ini sangatlah urgent peranannya dalam kepribadian tiap manusia. Jika manusia dalam tiap individunya mampu bertanggung jawab, ya minimal terhadap dirinya sendiri. Saya yakin mereka akan mampu menjadi pelopor perubahan yang lebih “bermartabat”.
Sabtu, 09 Februari 2013
Cerita Hari Ini
Jumat, 08 Februari 2013
sekedar senyum
Rabu, 06 Februari 2013
Untuku Mr. P
Langganan:
Komentar (Atom)

