Minggu, 22 November 2015

My Sexy Yankee Girl



Malam harinya, saat Mika dalam perjalanan pulang, dia mampir di sebuah kafe untuk membeli makanan, karena dia merasa sangat lapar setelah latihan. Turun dari mobil dia pun langsung masuk ke kafe dan mengambil dua bungkus roti, dan memesan minuman.
“ anno, Mika.” suara seorang laki-laki mengejutkannya.
“ are, Kuroko kun? Kau baru pulang?” tanya Mika pada laki-laki yang menyapanya itu.
“ ah, hai. Aku baru saja selesai makan. Kau sendiri baru pulang?”
“ hai. Latihan hari ini sedikit lebih lama dari biasanya.”
“ jadi kau akan ikut turnamen?”
“ hai. Satu minggu lagi. Kalian juga, bukankah pertandingan kalian juga sebentar lagi?”
“ ah, hai. Pelatih juga sudah menambah porsi latihan untuk kami.”
“ soo ka. Pasti melelahkan. Tapi jangan sampai itu mengganggu pelajaran kalian. Ingat sebentar lagi ujian. Untuk onii chan dan juga Midorima aku yakin itu bukan masalah, kalau Aomine, dia pasti sudah dibantu Momoi. Bagaimana denganmu?” tanya Mika tulus.
“ silakan ini pesanannya.” kata pelayan sambil menyerahkan minuman pesanan Mika.
“ arigatou.” Mika pun membayar pesanannya.
“ daijobu. Nilaiku tidak terlalu buruk.” kata Kuroko.
“ soo ka, nara yokatta. Kalau kau butuh bantuan, bilang saja. Aku akan membantumu. Saa, aku pulang dulu.”
“ Arigatou gozaimasu, Mika.” Mika hanya menjawab ucapan Kuroko dengan senyuman sebelum dia benar-benar pergi. Mika selalu saja berhasil membuat Kuroko tersipu. Dalam hati, Kuroko juga membenarkan perkataan Haizaki tentang Mika. Mika memang ramah, tapi dia juga bisa menjadi sangat arogan. Mungkin karena dia biasa bertarung dalam arti arti yang sebenarnya. Dia juga sering menghentikan perkelahian antar laki-laki, itu salah satu sebab kenapa dia mendapat julukan yankee girl di sekolah, karena dia mampu menaklukkan para anak-anak berandal yang selalu membuat keributan di sekolah. Tapi meski begitu dia tidak pernah merasa berkuasa atas mereka semua. Dia hanya tak suka melihat orang bodoh itu berkelahi karena alasan sepele.

Seminggu kemudian, Mika selesai dengan turnamennya, dia bahkan berhasil memenangkan juara satu, dan mendapat penghargaan sebagai master iaido termuda. Saat masuk ke kelas, dia pun mendapatkan ucapan selamat dari teman-teman sekelasnya. Dia bahkan mendapatkan banyak hadiah sebagai ucapan selamat.
“ minna arigato na.” jawab Mika sambil tersenyum saat menerima semua ucapan itu.
“ hountou ni sugoi yo, Mika! Kau berhasil mengalahkan mereka semua.” puji salah satu temannya.
“ eh, mereka juga sangat kuat, aku harus benar-benar serius saat menghadapi mereka. Mitte! Aku bahkan sampai terluka saat pertandingan.” kata Mika sambil menunjukkan luka di tangannya yang masih dibalut perban.
“ sonna, itu pasti sakit.”
“ iya, sakit kalau efek obatnya habis. Tapi sekarang tidak masalah. Hasilnya sebanding dengan luka ini.” jawab Mika percaya diri. Tak lama kemudian bel masuk pun berdering, mereka memulai pelajaran seperti biasanya.

Saat jam istirahat, Seijuro mengunjungi kelas Mika, bersama dengan Midorima.
“ Mika, genki desuka?” tanya Seijuro saat dia melihat Mika sedang merapikan buku-bukunya.
“ hai hai! Mochiro.” jawab Mika.
“ teman-temanmu tak mengganggumu kan?”
“ ha? Sonna. Mitte ru yo, mereka malah memberiku banyak hadiah.” jawab Mika sambil memperlihatkan 2 kantong hadiahnya dari teman-temannya.
“kau tampak senang, Mika.” kata Midorima.
“ attari maida, Shintaro. Siapa juga yang tak suka hadiah.”
“ memangnya kau ini anak kecil?”
“ heee? Aku juga menyukai sesuatu yang manis, Midorima. Tapi menghadapi sesuatu yang kasar juga bukan masalah bagiku. Kau tahu, aku tak suka kalah. Aku benci kekalahan. Tapi bukan berarti aku tak pernah kalah.”
“ itu sebabnya kau masih harus belajar lagi, Mika chan.” kata Seijuro yang sudah duduk manis di samping Mika.
“ sonna, kau tahu track record kekalahanku selalu saja ada kamu, nii chan. Biola, Piano, Basket, dan juga akademis. Kau selalu saja di atasku.”
“ bukan hanya kau yang benci kekalahan, Mika chan. Boku mo. Lagipula, aku tak pernah merasakan kekalahan sebelumnya.”
“ geezzz. Kau mau menyombong di depanku?” keluh Mika.
“ hahahaah, sonna, aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya.” kata Seijuro sambil mengelus kepala Mika. Di sisi lain, Kuroko hanya mengamati ketiganya dalam diam. [“mungkin nanti saja kuberikan”] katanya dalam hati sambil melirik ke arah bungkusan kadonya.

Pulang sekolah, Mika bersiap untuk keluar dari kelasnya setelah merapikan barang-barangnya.
“ anno... Mika, omedeto!” kata Kuroko pada Mika sambil mengulurkan sebuah bungkusan kado.
“ eh, arigatou na, Kuroko kun.” kata Mika menerima bungkusan itu.
“ ah, biar ku bantu membawanya.” tawar Kuroko, saat melihat Mika merapikan kedua tas berisi hadiah untuknya.
“ arigatou.” mereka pun keluar dari ruangan dan berjalan menuju depan gerbang tempat mobil jemputan Mika menunggu.
“ kau langsung pulang?”
“ hai. Kakak akan marah padaku kalau aku tak langsung pulang. Kau tahu dia itu sangat protective pada ku. Dia bahkan tak mau meninggalkanku saat proses ganti perban.”
“ dia pasti sangat mengkhawatirkanmu, Mika.”
“ hai hai. Ma, sampaikan salamku pada yang lain, maaf aku tak bisa mampir ke lapangan.” setelah itu, Mika pun segera masuk meninggalkan Kuroko yang masih terpaku di tempatnya.
“ aku ini tak tahu diri sekali, mana mungkin aku aku bersamanya.” gumam Kuroko setelah mobil Mika menghilang dari pandangannya.

Sesampainya di rumah, Mika langsung beristirahat di kamarnya.
“ oujo sama, bungkusan ini mau di simpan di mana?” tanya salah satu pelayannya sambil membawa dua bungkusan milik Mika.
“ ah, letakkan saja di meja. Arigatou Takeshi san. Ah, tolong panggilan Dr. Alex. Aku mau segera istirahat setelah ganti perban.” pinta Mika dari atas ranjangnya.
“ hai. Wakarimashita.” setelah pelayannya keluar, Mika pun beranjak dari ranjangnya membongkar kantong hadiahnya sambil menunggu dokternya. Satu per satu dia membuka bungkusannya. Ada buku, boneka, hiasan dinding, bahkan sampai kosmetik.
“ nanda kore? Aku kan tak pernah memakai make up.” gumam Mika heran dengan kelakuan teman-temannya. Dia pun membuka kado terakhir.
“ ini dari Kuroko, huh?” Mika pun membukanya. Dia tersenyum saat tahu apa isinya. “ selamat atas kemenanganmu, aku hanya bisa memberimu ini, aku harap kau menyukainya.” itulah yang tertulis dari pesan dalam bungkusan Kuroko.

Keesokan harinya, Akashi bersaudara berangkat ke sekolah seperti biasa.
“ kau mau mengganti tampilanmu, Mika chan?” tanya Seijuro saat melihat saudaranya memakai aksesoris rambut. Tidak seperti biasanya.
“ ah, ini, teman sekelasku yang memberikannya. Aku rasa aku harus memakainya.” jawab Mika singkat. Diakui Seijuro, adiknya jadi tampak lebih manis dengan bandana di rambutnya.

Siang harinya, Kuroko pergi mencari Mika. Tidak biasanya, hari ini Mika membolos pelajaran.
“ ittai na... Tubuhku sepertinya semakin lemah. Aku jadi gampang lelah sekarang.” keluh Mika sambil meregangkan tubuhnya di atap gedung.
“ kau di sini rupanya? Tidak biasanya kau membolos, apa kau baik-baik saja?” tanya seorang laki-laki yang ternyata Kuroko.
“ ah, kau menemukanku. Ia. Daijobu. Aku hanya sedikit lelah.”
“ kau memakainya?” kata Kuroko saat melihat Mika memakai bandana darinya.
“ hai. Lumayan juga.”
“ kirei yo anata wa.” puji Kuroko. Yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Mika.
“ skararetta atashi wa.” kata Mika memecah keheningan.
“ he? Nande?” tanya Kuroko tak mengerti.
“ kau tahu semua hadiah kemarin?”
“ hai.”
“ hampir semua dari anak laki-laki. Dan semua pesan yang ku baca isinya sama, kecuali yang dari anak perempuan dan juga darimu.”
“ sama? Memangnya apa isinya?”
“ mereka memintaku untuk berkencan dengan mereka. Mereka sama sekali tak mengerti perasaanku. Mereka tak tahu betapa sulitnya aku untuk memperlakukan mereka dengan cara yang sama, kau tahu, sebenarnya aku bukanlah orang yang sebaik yang kalian kira. Kau tahu kenapa aku bisa berhasil di setiap pertandinganku?”
“ ia..”
“ karena aku tak pernah ragu-ragu untuk menghabisi lawanku. Tapi aku menyukai iaido, ia, lebih tepatnya aku mencintai iaido. Saat memengang katana, aku bisa merasa hidup. Benar-benar hidup. Na, bukankah aku ini mengerikan?” tiba-tiba Kuroko menarik tangan Mika hingga membuat Mika mengahadap ke arahnya.
“ ia. Aku tak pernah melihat kau sebagai orang yang mengerikan. Kau adalah gadis yang luar biasa. Aku yakin kau punya alasan sendiri kenapa kau melakukannya. Setiap orang punya alasan untuk mencintai sesuatu. Kau mencintai iaido karena dengan itu kau bisa merasa bebas. Setidaknya kau tidak pernah melampiaskan bakatmu ke tempat yang salah. Dan juga apapun yang terjadi di masa lalumu yang mungkin saja mengganggumu, percayalah, kau yang sekarang adalah orang yang luar biasa.” kata-kata Kuroko meluncur begitu saja. Mendengar hal itu, Mika menjadi terharu dan menutup bibirnya dengan tangannya untuk menahan tangisnya.
“ arigatou, Kuroko kun. Arigatou...” melihat sisi Mika yang seperti itu, membuat hati Kuroko tergerak. Dia pun menarik Mika mendekat lalu memeluk tubuh Mika yang cukup kecil untuk seorang atlit.
“ menangislah jika kau ingin menangis, aku tak akan mengatakan pada siapapun.” kata Kuroko sambil mengelus kepala Mika dengan lembut. Entah kenapa tidak seperti biasa, dimana dia akan segera menepis tangan selain tangan Seijuro, justru dia malah menemukan kehangatan dipelukan Kuroko dan juga perhatian yang tulus di balik belaian tangan Kuroko.
“ ah, arigatou, Kuroko kun. Dan juga, jangan lakukan itu lagi padaku.” kata Mika setelah mengusap air mata dari wajahnya.
“ eh, summimasen, aku tak bermaksud...”
“ ia... Kau tak perlu minta maaf, kau tak salah. Aku melarangmu, karena tindakanmu itu bisa membuatku jatuh hati padamu.” jawab Mika sambil berjalan pergi meninggalkan Kuroko.
“ lalu bagaimana jika aku sudah jatuh hati padamu, Mika.” kata Kuroko keras. Mendengar hal itu, Mika terhenti sejenak.
“ dame yo, Kuroko kun. Aku hanya akan menyakitimu.”
“ kita tak akan pernah tahu sebelum kita mencobanya. Aku sudah biasa terluka, saat teman-teman tak menyadari keberadaanku, tapi kau orang pertama yang menyadari keberadaanku layaknya orang normal. Kau yang membuatku merasa aku ini ada. Ijinkan aku untuk menerima sisi gelapmu, Mika.”
“ Kuroko kun...” Mika hanya diam menatap Kuroko yang kini mendekat ke arahnya. Tangan Kuroko menangkup wajah berkulit putih itu dengan lembut, lalu dia pun mengecup bibir merah Mika dengan lembut. Mika hanya terdiam melihat tindakan Kuroko.
“ ore wa anata no daisuki, Mika.” kata Kuroko. Pernyataan Kuroko hanya dibalas Mika dengan pelukan. Sejak itu mereka pun mulai berpacaran, meskipun banyak yang menggunjingkan mereka, tapi itu bukan masalah bagi mereka, setidaknya untuk saat ini dan nanti. Mereka yakin akan hal itu.

FIN

Kamis, 19 November 2015

My Sexy Yankee Girl


“ Basket huh? Pasti akan menyenangkan jika kakak bisa bermain bersama teman-temannya.” gumam seorang gadis saat melihat beberapa anak bermain basket di lapangan. “ maa, aku ingin menemaninya, tapi aku juga harus mengurus kakek.” katanya sambil melirik ke arah katananya yang terbungkus rapi.
“ oi, abenai yo!” teriak seseorang dari anak laki-laki itu. Ternyata ada bola basket yang meluncur ke arah Mika, tapi dengan reflek dan kekuatannya, Mika dengan mudah menghentikan bola itu.
“ sugoi! Bisa tolong lempar bolanya?” pinta salah satu anak itu.
“ lempar? Kalian yakin?” mendengar pertanyaan gadis itu, mereka tak mengerti. Gadis itu pun tersenyum penuh arti. Gadis itu pun masuk ke dalam lapangan, sambil mendrible dola,dia biasa melihat kakaknya melakukan hal ini. Lalu dari luar garis, dia pun melempar bola itu ke arah ring, dan masuk.
“ nani? Sugoi!”
“ apa kau juga pemain basket? Dari club putri mungkin?”
“ ia! Aku tak pernah bermain basket, tadashi, aku sering melihat kakakku memainkannya.” jawab gadis itu.
“ kalau begitu, kenapa kau tak mencobanya?” tawar salah satu anak itu.
“ warukenai! Iku. Aku juga masih punya waktu.” gadis itu pun menerima tawaran mereka. Mereka pun akhirnya bermain, awalnya gadis itu memang agak kesulitan, tapi seiring waktu berjalan, dia pun mulai mengerti aturan beraminnya, lalu dia pun mulai menikmatinya. Dia bahkan beberapa kali memasukkan bola, dengan bekerja sama dengan anak laki-laki yang menawarinya tadi. Mereka tak bermain lama, gadis itu, tampaknya sedang terburu-buru.
“ matte! Hajime memashite, ore no namae wa Aomine Daiki desu. Anata mo?” tanya anak laki-laki itu saat gadis itu bersiap untuk pergi.
“ watashi, Akashi Mika desu, yoroshiku ne minna. Maa, atashi mo kaeru yo! Jaa na!” gadis itu pun akhirnya pergi. Begitulah awal pertemuan Aomine dengan Mika. Sejak itu, sepulang Mika dari latihan Iaidonya dia selalu menyempatkan diri untuk mampir di lapangan itu. Dan akhirnya mereka pun berpacaran hingga mereka masuk ke SMP yang sama, SMP Teiko. Hanya saja, tampaknya hubungan mereka tak berjalan lancar. Bisa dikatakan keduanya sama-sama keras kepala. Mika selalu saja bersama dengan saudara kembarnya, Akashi Seijuro saat di sekolah. Aomine sama sekali tak punya kesempatan untuk mendekat, karena Seijuro selalu menatap dingin padanya jika dia mendekati Mika, saat Mika sedang bersamanya.
“ Mika! Tak bisakah kau meluangkan waktu untukku saat di sekolah?” keluh Aomine.
“ nanda? Aku sudah meluangkan waktu untukmu saat latihan kan? Aku sering menengok kalian, sebelum aku pergi latihan.” jawab Mika.
“ cih! Bukan seperti ini yang aku inginkan, Mika!”
“ lalu seperti apa? Apa kau ingin aku terus menempel padamu seperti teman masa kecilmu itu? Bersikap sok manis di depan orang lain?” tanya Mika dengan nada sarkastik.
“ maksudmu Satsuki? Kau tahu dia hanya teman masa kecilku.”
“ aku tak suka dengannya. Dia itu, selalu membuatku kesal. Dia selalu berusaha menantangku. Dia menyebalkan.”
“ menantangmu? Apa maksudmu?”
“ dia bilang aku tak mengenalmu. Dia lebih mengenalmu. Ma,, aku tak bisa menyangkal hal itu. Tapi yang paling membuatku kesal adalah saat dia bilang aku hanya bermain-main denganmu.”
“ sonna... Dia tak mungkin...” Mika pun menatap tajam pada Aomine yang tampak tak percaya dengan perkataannya.
“ terserah kau percaya atau tidak. Aku tak peduli. Dan, aku rasa lebih baik kita akhiri hubungan kita. Toh, kita sama-sama tak bisa merasa nyaman.”
“ nani?”
“ Daiki, gomen. Aku memang tak cocok denganmu. Aku rasa persahabatan lebih cocok untuk hubungan kita, bukan pacaran.”
“ Mika...”
“ dengan begitu, kita tetap bisa bersama, bahkan saat aku bersama dengan kakakku sekalipun. Bagaimana?”
“ Mika chan, kau serius?”
“ gomen ne Daiki. Mungkin aku hanya tak tahan melihatmu terus bersama gadis itu. Tapi aku juga tak bisa egois, karena akupun juga melakukan hal yang sama denganmu.” sejak itu, hubungan mereka sebagai pasangan pun berakhir. Tapi entah kenapa, bagi mereka hal itu lebih baik. Benar kata Mika, Aomine pun sekarang justru lebih mudah untuk bergabung bersama Mika dan kembarannya.

Pertengahan semester 1, ada anggota baru yang masuk ke tim basket mereka, berdasarkan keputusan Akashi Seijuro sebagai kapten. Anak itu bernama Kuroko Tetsuya.
“ aku tertarik dengan auramu, bermainlah bersama kami. Tapi saran dariku, kembangkanlah teknik operanmu, karena itulah kelebihanmu.” kata Seijuro, pada anak itu.
“ hai, arigatou gozaimasu.” Jawab anak itu.
“ aku dengar kau dari grup ketiga? Kau pasti berlatih dengan keras di sana, na Kuroko kun?” tanya Mika.
“ hai. Aku sangat menyukai basket.” jawab Kuroko.
“ soo ka. Ganbatte yo! Ma in ja, aku harus latihan. Ja nee.” Mika pun segera pergi setelah berpamitan dengan yang lainnya.

Sudah beberapa hari Mika tak berkunjung ke lapangan seperti biasa. Aomine yang penasaran pun bertanya pada Akashi.
“ Akashi, Mika wa doko? Sudah beberapa hari dia tak kemari.” tanya Aomine.
“ sejak 3 hari yang lalu dia minta untuk diantar jemput. Dia bilang dia sering diganggu para murid laki-laki, sejak kalian putus.” jawab Akashi.
“ ha? Sonna. Tapi dia kan bisa bela diri.”
“ massaka... Apa kau pikir, hanya karena dia bisa bela diri, dia akan menggunakannya begitu saja? Apa kau pernah lihat dia saat beraksi dengan katananya?”
“ ah, belum.”
“ ma, lebih baik kau tak melihatnya, sih. Dia akan menjadi orang yang benar-benar berbeda saat sudah memegang katananya.” Seijuro teringat dengan insiden perampokan di rumahnya saat mereka masih kecil. Itulah saat pertama, Mika memegang katana. Sejak saat itu, kakek mereka yang tahu bakat Mika, langsung melatih dan mengajari Mika teknik dan seni pedang iaido.
“ konichiwa minna....” suara seorang gadis yang tak asing lagi membuat mereka menoleh ke arahnya.
“ ah, Mika chan.. Kupikir kau sudah lupa dengan klub ini, ku dengar kau sibuk dengan para penggemarmu.” kata Momoi. Ya Momoi memang selalu sinis dengan Mika, tak tahu apa sebabnya. Tapi itu bukan gangguan berarti untuk Mika karena Mika pun selalu berhasil membalas sindiran Momoi.
“ he? Memangnya kenapa, Momoi san? Aku bahkan tak pernah menanggapi mereka sepertimu. Tapi lihat, kau tampak terganggu denganku, Momoi.”
“ nani?! Jadi kau pikir...”
“ ah, onni chan... Aku bawa bekal untukmu.” Mika pun meninggalkan Momoi yang masih kesal.
“ kau tak perlu repot, Mika chan. Apa ini masakanmu sendiri?” tanya Akashi.
“ mochiro, nii chan. Taberu yo.”
“ hai. Ok, semua , kita istirahat 15 menit.” perintah Akashi.
“ ara,,,, Mika chan, tampaknya sangat enak.” kata Aomine tiba-tiba sudah berada di belakang Mika yang sedang duduk dengan saudaranya. Aomine pun mencoba mengambil makanan yang sedang dipegang Mika.
“ Oi! Ia da yo, Daiki.” kata Mika menyingkirkan bentonya.
“ harahetta yo, Mika chan. Lain kali buatkan juga untukku.” pinta Aomine.
“ Daiki, berhenti menggangu Mika. Lagipula tidak adil kalau Mika hanya membuatkan bento untukmu. Dia bukan bagian dari tim basket, dia juga bukan pacarmu lagi.” kata Akashi tajam.
“ moi yo. Daijo bu. Na Daiki, kalau kau mau makan, pakailah sumpitnya jangan langsung pakai tanganmu seperti tadi. Kimochi warui!” kata Mika menengahi.
“ waaa, wakarimashita!” Aomine pun akhirnya berhasil mendapatkan makanan dari Mika. Sedangkan yang lainnya hanya melihat keakraban mereka. Mika memang tidak terlalu akrab dengan yang lainnya, bukan karena Mika tak mau, hanya saja, sepertinya mereka sendirilah yang membatasi diri mereka. Mika yang sadar anggota yang lainnya sedang memperhatikan mereka bertiga, langsung bertindak.
“ ma, ma, jangan pikir aku ini orang yang pelit ya, aku juga membawa makanan untuk kalian semua, chotto matte.” Mika pun mengeluarkan beberapa kotak makanan dari tasnya yang memang tampak besar hari itu. “ kore, minna, taberuyo. Onigiri.” kata Mika pada anggota yang lainnya. Mereka pun mengambil onigiri itu satu per satu.
“ semua sudah kebagian? Tanya Mika memastikan, mereka hanya mengangguk. Tapi Mika sadar sesuatu. “ Kuroko wa doko? Dia belum mengambilnya. Aku tadi lihat dia...”
“ anno, summimasen.” seseorang pun mengangkat tangannya dari arah belakang kerumunan. Lalu mulai menerobos.
“ ah, kore. Kupikir kau tak mau.” kata Mika sambil menyerahkan onigiri untuk Kuroko.
“ ah, summimasen, tadi aku terdorong ke belakang, jadi aku pikir, mungkin itu tak perlu.”
“ sonna,,, kau tak boleh menyerah begitu, Kuroko kun.” kata Mika menyemangati. Kuroko pun tersipu malu, mendengarnya, tapi bukan itu yang membuatnya kagum. Sejak masuk ke sekolah ini, baru Mika lah yang bisa menyadari kehadiran Kuroko layaknya orang yang lain. Bahkan di kelas, Mika tak pernah melewatkan bagian Kuroko ada pembagian selebaran. Tidak seperti temannya yang lain, yang bahkan tak sadar Kuroko ada di kelas mereka. Tapi meski begitu, Kuroko tetap merasa tak bisa dekat dengan Mika. Mika memang ramah pada semua orang, tapi dia cenderung sinis pada orang yang menentangnya. Mika berteman dengan siapa saja, tapi tak ada yang benar-benar mengenalnya. Bahkan di basket pun, dia dan saudaranya seperti memiliki dunia yang berbeda dengan yang lainnya. Mereka berdua terlahir sebagai saudara kembar identik, mereka memiliki bentuk fisik yang bisa dikatakan sempurna, otak yang jenius, dan juga kemampuan untuk menarik orang lain. Sejak masuk sekolah, Mika sudah menjadi idola, bukan hanya para siswa laki-laki, siswa perempuan dan guru pun menyukainya. Dulu saat dia masih berpacaran dengan Aomine, tak ada siswa laki-laki yang mendekatinya, tapi sejak mereka putus, sudah beberapa anak laki-laki yang mendekatinya. Tapi semuanya ditolak.

Di rumah Akashi.
“ Mika chan, jika kuperhatikan, tampaknya kau sangat peduli dengan Tetsuya.” kata Seijuro saat mereka sedang makan malam.
“ ha? Nanda sore? Dia kan teman sekelas ku, apanya yang salah?”
“ soo ka, nara yokatta. Tapi mengingat hawa keberadaannya yang kecil, bagaimana kau bisa menyadarinya?” tanya Seijuro penasaran.
“ itu bukan hal yang sulit, nii chan. Kau tahu, di latihan ku, bukan hanya fisik dan kelincahan yang kupelajari, tapi juga menajamkan intuisi.”
“ intuisi?”
“ ah, anata wa shiteru? Watashi wa esper datta. Jika kau ahli membuat perhitungan tentang semua kemungkinan yang akan terjadi. Aku ahli untuk merasakan apa yang akan terjadi.”
“ ha? Lalu apa kau bisa merasakan apa yang akan terjadi pada kita?”
“hmmm, kau tahu itu tak bisa kukatakan, Nii chan. Bukankah membiarkannya menjadi misteri jauh lebih menyenangkan? Sejujurnya aku ingin menjadi sepertimu yang bisa membuat perhitungan yang begitu sempurna. Kau sangat hebat untuk mengatur strategi, seperti shogi dan juga basket. Aku cuma bisa merasa hidup saat memegang katanaku. Itu smeua tak berguna. Pada akhirnya aku hanya bisa menajdi ornag yang mengerikan.” kata Mika murung.
“ jigau! Kau adalah gadis yang sangat manis, Mika chan.” kata Seijuro sambil membelai rambut Mika dengan lembut. Membuat Mika tersipu. Mika tidak pernah membiarkan orang lain menyentuh kepalanya, kecuali saudaranya. Dan memang hanya Seijuro lah yang selalu bisa menenangkan hati Mika. Tapi, bagi Seijuro, Mika juga penyemangatnya, sejak ibu mereka meninggal. Selama Mika tetap bersamanya, Seijuro akan selalu bisa mengendalikan dirinya.
“ na, Nii chan, kau tahu aku juga bisa merasakan aura yang sama dengan auramu saat melihat Kuroko. Kalian sama-sama hangat dan lembut.”
“ ha? Massaka, anata wa...”
“ saa, ma ayo kita istirahat.”ajak Mika.
“ kau tidur bersama ku lagi?”
“ hahaha,,, itu akan memabuatku tidur lebih cepat, nii chan.”
“ takku!”

Beberapa hari kemudian, di taman sekolah, Mika sedang berbicara dengan salah satu siswa laki-laki.
“ nanda yo, senpai?” tanya Mika dingin. Meski sebenarnya dia juga sudah tahu apa yang akan dikatakan senpainya itu.
“ Mika chan, suki atte kudasai.” kata anak itu.
“ gomen senpai, aku tak bisa.”
“ nande? Kau kan tak punya pacar? Apa salahnya?” paksa anak itu. Mendengar hal itu, Mika hanya menghela nafas panjang dan mengalihkan pandangannya. Tak sengaja, pandangannya bertemu dengan seseorang yang tampaknya juga sedang melihat ke arah mereka. Mika tersenyum.
“ tapi aku tertarik dengan orang lain, senpai.” jawab Mika, tanpa mengalihkan pandangannya ke anak itu.
“ dare? Siapa anak itu?” tanya laki-laki itu penasaran, lalu dia pun melihat ke arah Mika menoleh. Seorang anak laki-laki biasa, sangat biasa, yang bahkan tak dia sadari keberadaannya. “ sonna, jangan bilang kau tertarik dengan dia. Lihatlah dia, bukankah dia sangat biasa.aku bahkan tak tahu sejak kapan dia di sana. Tak mungkin dia pantas denganmu!” kata laki-laki itu.
“ lalu kenapa kau berpikir kau pantas untukku?”
“ attari maida! Aku kapten tim baseball, aku juga populer.”
“kau terlalu sombong! Kalau kau hanya menilai orang lain hanya dari luar, kau tak akan pernah bisa melihat nilai yang sesungguhnya dari orang itu. Dari ini saja, sudah membuatku cukup tahu, kau tidak layak untukku.” balas Mika dingin. Dia pun berjalan pergi meninggalkan senpainya sendirian. “ sudah saatnya masuk kelas, Kuroko kun.” kata Mika saat berpapasan dengan anak laki-laki yang masih bengong setelah melihat mereka berdua.
“ah, ha hai.” laki-laki itu pun akhirnya menyusul Mika yang sudah berjalan lebih dulu.
“ apa yang kau lakukan di sana tadi? Aku tak percaya kau hanya kebetulan disana.” tanya Mika di perjalanan menuju kelas.
“ eh, etto, gomen. Aku hanya penasaran.”
“ penasaran?” tanya Mika sambil berbalik ke arah laki-laki itu.
“ aku tadi melihatmu meninggalkan kantin bersama dia, lalu aku...”
“ mengikutiku?”
“ summimasen.”
“ kau tak perlu minta maaf, itu hak mu untuk mengikuti siapapun.”
“ tapi, bagaimana kau bisa tahu aku di sana?”
“ ha? Kau meremehkanku, Kuroko kun.”
“ selama ini tak ada yang menyadari keberadaanku, tapi kau selalu bisa.”
“ bukankah itu bagus, Kuroko kun? Kalau ada ornag yang bisa menganggapmu, bukankah itu akan membuatmu tak kesepian?” kata Mika sambil tersenyum. Melihatnya Kuroko pun tersipu malu. Dia benar-benar sangat cantik. Gadis yang sempurna.
“ Mika, arigatou.”
“ kau tak perlu berterima kasih padaku, Kuroko kun. Kau tahu, kau itu benar-benar laki-laki yang menarik.” setelah mengatakan itu, Mika pun kembali melanjutkan jalnnya ke kelas. Setelah sadar atas lamunannya, Kuroko pun segera menyusul Mika ke kelas. Seharian, Kuroko memikirkan perkataan Mika. Tapi Mika sendiri tampak biasa saja, seperti tak terjadi sesuatu.

Seperti biasanya, sebelum Mika berangkat untuk latihan iaido, dia menyempatkan diri mampir ke lapangan, mengunjungi teman-temannya.
“ Mika, sebaiknya kau tak perlu kemari setiap hari.” kata Seijuro.
“ he? Nande?”
“ fokuslah untuk latihanmu. Bukankah turnamen akan segera dimulai?”
“ ah, soo. Daijobu. Aku juga hanya mampir kemari. Tak sampai 15 menit. Itu tak akan membuang waktukku, nii chan.”
“ ini adalah kesempatanmu, jadi jangan sia-siakan.”
“ wakatta yo, nii chan. Lagi pula, kau juga lebih tahu seperti apa kemampuanku. Simpai nai yo. Maa, itte kimasu.” Mika pun berpamitan lalu segera pergi meninggalkan mereka.
“ Akashi, memangnya Mika akan mengikuti turnamen apa?” tanya Midorima penasaran.
“ dia terpilih untuk mewakili daerah kita di turnamen bela diri nasional cabang Iaido. Satu minggu lagi dia akan bertanding. Tapi seperti yang kau lihat, dia masih seenaknya saja bermain-main.” jelas Akashi tampak sedikit khawatir.
“ sugoi! Aku sudah tahu dia itu kuat, tapi aku tak menyangka dia akan terpilih.” sahut Aomine yang ikut mendengarkan.
“ ha? Jadi kembaranmu itu, sekuat itu? Aku jadi penasaran. Dia cantik, pintar, dan juga kuat, dan terlebih lagi dia sangat seksi. Ma... Akashi, boleh aku mendekatinya?” kata Haizaki sambil merangkul Akashi. Jelas saja sikap itu membuat Akashi kesal, lebih tepatnya kata-katanya atas Mika.
“ berani kau mengganggunya, maka akan kubuat kau menyesal, Haizaki.” ancam Seijuro. Jelas Seijuro mengeluarkan aura yang dingin kepada mereka semua.
“cih! Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku tak tertarik dengan latihan ini.” Haizaki pun pergi meninggalkan lapangan, seperti biasanya.
“ anak itu, selalu saja seenaknya.” keluh Midorima.
“ ah, dia benar-benar menyebalkan.” tambah Aomine.
“ moi ka, suzukero!” perintah Akashi, mereka pun segera mulai latihan, tak terkecuali Kuroko.

***TBC***