Kamis, 19 November 2015

My Sexy Yankee Girl


“ Basket huh? Pasti akan menyenangkan jika kakak bisa bermain bersama teman-temannya.” gumam seorang gadis saat melihat beberapa anak bermain basket di lapangan. “ maa, aku ingin menemaninya, tapi aku juga harus mengurus kakek.” katanya sambil melirik ke arah katananya yang terbungkus rapi.
“ oi, abenai yo!” teriak seseorang dari anak laki-laki itu. Ternyata ada bola basket yang meluncur ke arah Mika, tapi dengan reflek dan kekuatannya, Mika dengan mudah menghentikan bola itu.
“ sugoi! Bisa tolong lempar bolanya?” pinta salah satu anak itu.
“ lempar? Kalian yakin?” mendengar pertanyaan gadis itu, mereka tak mengerti. Gadis itu pun tersenyum penuh arti. Gadis itu pun masuk ke dalam lapangan, sambil mendrible dola,dia biasa melihat kakaknya melakukan hal ini. Lalu dari luar garis, dia pun melempar bola itu ke arah ring, dan masuk.
“ nani? Sugoi!”
“ apa kau juga pemain basket? Dari club putri mungkin?”
“ ia! Aku tak pernah bermain basket, tadashi, aku sering melihat kakakku memainkannya.” jawab gadis itu.
“ kalau begitu, kenapa kau tak mencobanya?” tawar salah satu anak itu.
“ warukenai! Iku. Aku juga masih punya waktu.” gadis itu pun menerima tawaran mereka. Mereka pun akhirnya bermain, awalnya gadis itu memang agak kesulitan, tapi seiring waktu berjalan, dia pun mulai mengerti aturan beraminnya, lalu dia pun mulai menikmatinya. Dia bahkan beberapa kali memasukkan bola, dengan bekerja sama dengan anak laki-laki yang menawarinya tadi. Mereka tak bermain lama, gadis itu, tampaknya sedang terburu-buru.
“ matte! Hajime memashite, ore no namae wa Aomine Daiki desu. Anata mo?” tanya anak laki-laki itu saat gadis itu bersiap untuk pergi.
“ watashi, Akashi Mika desu, yoroshiku ne minna. Maa, atashi mo kaeru yo! Jaa na!” gadis itu pun akhirnya pergi. Begitulah awal pertemuan Aomine dengan Mika. Sejak itu, sepulang Mika dari latihan Iaidonya dia selalu menyempatkan diri untuk mampir di lapangan itu. Dan akhirnya mereka pun berpacaran hingga mereka masuk ke SMP yang sama, SMP Teiko. Hanya saja, tampaknya hubungan mereka tak berjalan lancar. Bisa dikatakan keduanya sama-sama keras kepala. Mika selalu saja bersama dengan saudara kembarnya, Akashi Seijuro saat di sekolah. Aomine sama sekali tak punya kesempatan untuk mendekat, karena Seijuro selalu menatap dingin padanya jika dia mendekati Mika, saat Mika sedang bersamanya.
“ Mika! Tak bisakah kau meluangkan waktu untukku saat di sekolah?” keluh Aomine.
“ nanda? Aku sudah meluangkan waktu untukmu saat latihan kan? Aku sering menengok kalian, sebelum aku pergi latihan.” jawab Mika.
“ cih! Bukan seperti ini yang aku inginkan, Mika!”
“ lalu seperti apa? Apa kau ingin aku terus menempel padamu seperti teman masa kecilmu itu? Bersikap sok manis di depan orang lain?” tanya Mika dengan nada sarkastik.
“ maksudmu Satsuki? Kau tahu dia hanya teman masa kecilku.”
“ aku tak suka dengannya. Dia itu, selalu membuatku kesal. Dia selalu berusaha menantangku. Dia menyebalkan.”
“ menantangmu? Apa maksudmu?”
“ dia bilang aku tak mengenalmu. Dia lebih mengenalmu. Ma,, aku tak bisa menyangkal hal itu. Tapi yang paling membuatku kesal adalah saat dia bilang aku hanya bermain-main denganmu.”
“ sonna... Dia tak mungkin...” Mika pun menatap tajam pada Aomine yang tampak tak percaya dengan perkataannya.
“ terserah kau percaya atau tidak. Aku tak peduli. Dan, aku rasa lebih baik kita akhiri hubungan kita. Toh, kita sama-sama tak bisa merasa nyaman.”
“ nani?”
“ Daiki, gomen. Aku memang tak cocok denganmu. Aku rasa persahabatan lebih cocok untuk hubungan kita, bukan pacaran.”
“ Mika...”
“ dengan begitu, kita tetap bisa bersama, bahkan saat aku bersama dengan kakakku sekalipun. Bagaimana?”
“ Mika chan, kau serius?”
“ gomen ne Daiki. Mungkin aku hanya tak tahan melihatmu terus bersama gadis itu. Tapi aku juga tak bisa egois, karena akupun juga melakukan hal yang sama denganmu.” sejak itu, hubungan mereka sebagai pasangan pun berakhir. Tapi entah kenapa, bagi mereka hal itu lebih baik. Benar kata Mika, Aomine pun sekarang justru lebih mudah untuk bergabung bersama Mika dan kembarannya.

Pertengahan semester 1, ada anggota baru yang masuk ke tim basket mereka, berdasarkan keputusan Akashi Seijuro sebagai kapten. Anak itu bernama Kuroko Tetsuya.
“ aku tertarik dengan auramu, bermainlah bersama kami. Tapi saran dariku, kembangkanlah teknik operanmu, karena itulah kelebihanmu.” kata Seijuro, pada anak itu.
“ hai, arigatou gozaimasu.” Jawab anak itu.
“ aku dengar kau dari grup ketiga? Kau pasti berlatih dengan keras di sana, na Kuroko kun?” tanya Mika.
“ hai. Aku sangat menyukai basket.” jawab Kuroko.
“ soo ka. Ganbatte yo! Ma in ja, aku harus latihan. Ja nee.” Mika pun segera pergi setelah berpamitan dengan yang lainnya.

Sudah beberapa hari Mika tak berkunjung ke lapangan seperti biasa. Aomine yang penasaran pun bertanya pada Akashi.
“ Akashi, Mika wa doko? Sudah beberapa hari dia tak kemari.” tanya Aomine.
“ sejak 3 hari yang lalu dia minta untuk diantar jemput. Dia bilang dia sering diganggu para murid laki-laki, sejak kalian putus.” jawab Akashi.
“ ha? Sonna. Tapi dia kan bisa bela diri.”
“ massaka... Apa kau pikir, hanya karena dia bisa bela diri, dia akan menggunakannya begitu saja? Apa kau pernah lihat dia saat beraksi dengan katananya?”
“ ah, belum.”
“ ma, lebih baik kau tak melihatnya, sih. Dia akan menjadi orang yang benar-benar berbeda saat sudah memegang katananya.” Seijuro teringat dengan insiden perampokan di rumahnya saat mereka masih kecil. Itulah saat pertama, Mika memegang katana. Sejak saat itu, kakek mereka yang tahu bakat Mika, langsung melatih dan mengajari Mika teknik dan seni pedang iaido.
“ konichiwa minna....” suara seorang gadis yang tak asing lagi membuat mereka menoleh ke arahnya.
“ ah, Mika chan.. Kupikir kau sudah lupa dengan klub ini, ku dengar kau sibuk dengan para penggemarmu.” kata Momoi. Ya Momoi memang selalu sinis dengan Mika, tak tahu apa sebabnya. Tapi itu bukan gangguan berarti untuk Mika karena Mika pun selalu berhasil membalas sindiran Momoi.
“ he? Memangnya kenapa, Momoi san? Aku bahkan tak pernah menanggapi mereka sepertimu. Tapi lihat, kau tampak terganggu denganku, Momoi.”
“ nani?! Jadi kau pikir...”
“ ah, onni chan... Aku bawa bekal untukmu.” Mika pun meninggalkan Momoi yang masih kesal.
“ kau tak perlu repot, Mika chan. Apa ini masakanmu sendiri?” tanya Akashi.
“ mochiro, nii chan. Taberu yo.”
“ hai. Ok, semua , kita istirahat 15 menit.” perintah Akashi.
“ ara,,,, Mika chan, tampaknya sangat enak.” kata Aomine tiba-tiba sudah berada di belakang Mika yang sedang duduk dengan saudaranya. Aomine pun mencoba mengambil makanan yang sedang dipegang Mika.
“ Oi! Ia da yo, Daiki.” kata Mika menyingkirkan bentonya.
“ harahetta yo, Mika chan. Lain kali buatkan juga untukku.” pinta Aomine.
“ Daiki, berhenti menggangu Mika. Lagipula tidak adil kalau Mika hanya membuatkan bento untukmu. Dia bukan bagian dari tim basket, dia juga bukan pacarmu lagi.” kata Akashi tajam.
“ moi yo. Daijo bu. Na Daiki, kalau kau mau makan, pakailah sumpitnya jangan langsung pakai tanganmu seperti tadi. Kimochi warui!” kata Mika menengahi.
“ waaa, wakarimashita!” Aomine pun akhirnya berhasil mendapatkan makanan dari Mika. Sedangkan yang lainnya hanya melihat keakraban mereka. Mika memang tidak terlalu akrab dengan yang lainnya, bukan karena Mika tak mau, hanya saja, sepertinya mereka sendirilah yang membatasi diri mereka. Mika yang sadar anggota yang lainnya sedang memperhatikan mereka bertiga, langsung bertindak.
“ ma, ma, jangan pikir aku ini orang yang pelit ya, aku juga membawa makanan untuk kalian semua, chotto matte.” Mika pun mengeluarkan beberapa kotak makanan dari tasnya yang memang tampak besar hari itu. “ kore, minna, taberuyo. Onigiri.” kata Mika pada anggota yang lainnya. Mereka pun mengambil onigiri itu satu per satu.
“ semua sudah kebagian? Tanya Mika memastikan, mereka hanya mengangguk. Tapi Mika sadar sesuatu. “ Kuroko wa doko? Dia belum mengambilnya. Aku tadi lihat dia...”
“ anno, summimasen.” seseorang pun mengangkat tangannya dari arah belakang kerumunan. Lalu mulai menerobos.
“ ah, kore. Kupikir kau tak mau.” kata Mika sambil menyerahkan onigiri untuk Kuroko.
“ ah, summimasen, tadi aku terdorong ke belakang, jadi aku pikir, mungkin itu tak perlu.”
“ sonna,,, kau tak boleh menyerah begitu, Kuroko kun.” kata Mika menyemangati. Kuroko pun tersipu malu, mendengarnya, tapi bukan itu yang membuatnya kagum. Sejak masuk ke sekolah ini, baru Mika lah yang bisa menyadari kehadiran Kuroko layaknya orang yang lain. Bahkan di kelas, Mika tak pernah melewatkan bagian Kuroko ada pembagian selebaran. Tidak seperti temannya yang lain, yang bahkan tak sadar Kuroko ada di kelas mereka. Tapi meski begitu, Kuroko tetap merasa tak bisa dekat dengan Mika. Mika memang ramah pada semua orang, tapi dia cenderung sinis pada orang yang menentangnya. Mika berteman dengan siapa saja, tapi tak ada yang benar-benar mengenalnya. Bahkan di basket pun, dia dan saudaranya seperti memiliki dunia yang berbeda dengan yang lainnya. Mereka berdua terlahir sebagai saudara kembar identik, mereka memiliki bentuk fisik yang bisa dikatakan sempurna, otak yang jenius, dan juga kemampuan untuk menarik orang lain. Sejak masuk sekolah, Mika sudah menjadi idola, bukan hanya para siswa laki-laki, siswa perempuan dan guru pun menyukainya. Dulu saat dia masih berpacaran dengan Aomine, tak ada siswa laki-laki yang mendekatinya, tapi sejak mereka putus, sudah beberapa anak laki-laki yang mendekatinya. Tapi semuanya ditolak.

Di rumah Akashi.
“ Mika chan, jika kuperhatikan, tampaknya kau sangat peduli dengan Tetsuya.” kata Seijuro saat mereka sedang makan malam.
“ ha? Nanda sore? Dia kan teman sekelas ku, apanya yang salah?”
“ soo ka, nara yokatta. Tapi mengingat hawa keberadaannya yang kecil, bagaimana kau bisa menyadarinya?” tanya Seijuro penasaran.
“ itu bukan hal yang sulit, nii chan. Kau tahu, di latihan ku, bukan hanya fisik dan kelincahan yang kupelajari, tapi juga menajamkan intuisi.”
“ intuisi?”
“ ah, anata wa shiteru? Watashi wa esper datta. Jika kau ahli membuat perhitungan tentang semua kemungkinan yang akan terjadi. Aku ahli untuk merasakan apa yang akan terjadi.”
“ ha? Lalu apa kau bisa merasakan apa yang akan terjadi pada kita?”
“hmmm, kau tahu itu tak bisa kukatakan, Nii chan. Bukankah membiarkannya menjadi misteri jauh lebih menyenangkan? Sejujurnya aku ingin menjadi sepertimu yang bisa membuat perhitungan yang begitu sempurna. Kau sangat hebat untuk mengatur strategi, seperti shogi dan juga basket. Aku cuma bisa merasa hidup saat memegang katanaku. Itu smeua tak berguna. Pada akhirnya aku hanya bisa menajdi ornag yang mengerikan.” kata Mika murung.
“ jigau! Kau adalah gadis yang sangat manis, Mika chan.” kata Seijuro sambil membelai rambut Mika dengan lembut. Membuat Mika tersipu. Mika tidak pernah membiarkan orang lain menyentuh kepalanya, kecuali saudaranya. Dan memang hanya Seijuro lah yang selalu bisa menenangkan hati Mika. Tapi, bagi Seijuro, Mika juga penyemangatnya, sejak ibu mereka meninggal. Selama Mika tetap bersamanya, Seijuro akan selalu bisa mengendalikan dirinya.
“ na, Nii chan, kau tahu aku juga bisa merasakan aura yang sama dengan auramu saat melihat Kuroko. Kalian sama-sama hangat dan lembut.”
“ ha? Massaka, anata wa...”
“ saa, ma ayo kita istirahat.”ajak Mika.
“ kau tidur bersama ku lagi?”
“ hahaha,,, itu akan memabuatku tidur lebih cepat, nii chan.”
“ takku!”

Beberapa hari kemudian, di taman sekolah, Mika sedang berbicara dengan salah satu siswa laki-laki.
“ nanda yo, senpai?” tanya Mika dingin. Meski sebenarnya dia juga sudah tahu apa yang akan dikatakan senpainya itu.
“ Mika chan, suki atte kudasai.” kata anak itu.
“ gomen senpai, aku tak bisa.”
“ nande? Kau kan tak punya pacar? Apa salahnya?” paksa anak itu. Mendengar hal itu, Mika hanya menghela nafas panjang dan mengalihkan pandangannya. Tak sengaja, pandangannya bertemu dengan seseorang yang tampaknya juga sedang melihat ke arah mereka. Mika tersenyum.
“ tapi aku tertarik dengan orang lain, senpai.” jawab Mika, tanpa mengalihkan pandangannya ke anak itu.
“ dare? Siapa anak itu?” tanya laki-laki itu penasaran, lalu dia pun melihat ke arah Mika menoleh. Seorang anak laki-laki biasa, sangat biasa, yang bahkan tak dia sadari keberadaannya. “ sonna, jangan bilang kau tertarik dengan dia. Lihatlah dia, bukankah dia sangat biasa.aku bahkan tak tahu sejak kapan dia di sana. Tak mungkin dia pantas denganmu!” kata laki-laki itu.
“ lalu kenapa kau berpikir kau pantas untukku?”
“ attari maida! Aku kapten tim baseball, aku juga populer.”
“kau terlalu sombong! Kalau kau hanya menilai orang lain hanya dari luar, kau tak akan pernah bisa melihat nilai yang sesungguhnya dari orang itu. Dari ini saja, sudah membuatku cukup tahu, kau tidak layak untukku.” balas Mika dingin. Dia pun berjalan pergi meninggalkan senpainya sendirian. “ sudah saatnya masuk kelas, Kuroko kun.” kata Mika saat berpapasan dengan anak laki-laki yang masih bengong setelah melihat mereka berdua.
“ah, ha hai.” laki-laki itu pun akhirnya menyusul Mika yang sudah berjalan lebih dulu.
“ apa yang kau lakukan di sana tadi? Aku tak percaya kau hanya kebetulan disana.” tanya Mika di perjalanan menuju kelas.
“ eh, etto, gomen. Aku hanya penasaran.”
“ penasaran?” tanya Mika sambil berbalik ke arah laki-laki itu.
“ aku tadi melihatmu meninggalkan kantin bersama dia, lalu aku...”
“ mengikutiku?”
“ summimasen.”
“ kau tak perlu minta maaf, itu hak mu untuk mengikuti siapapun.”
“ tapi, bagaimana kau bisa tahu aku di sana?”
“ ha? Kau meremehkanku, Kuroko kun.”
“ selama ini tak ada yang menyadari keberadaanku, tapi kau selalu bisa.”
“ bukankah itu bagus, Kuroko kun? Kalau ada ornag yang bisa menganggapmu, bukankah itu akan membuatmu tak kesepian?” kata Mika sambil tersenyum. Melihatnya Kuroko pun tersipu malu. Dia benar-benar sangat cantik. Gadis yang sempurna.
“ Mika, arigatou.”
“ kau tak perlu berterima kasih padaku, Kuroko kun. Kau tahu, kau itu benar-benar laki-laki yang menarik.” setelah mengatakan itu, Mika pun kembali melanjutkan jalnnya ke kelas. Setelah sadar atas lamunannya, Kuroko pun segera menyusul Mika ke kelas. Seharian, Kuroko memikirkan perkataan Mika. Tapi Mika sendiri tampak biasa saja, seperti tak terjadi sesuatu.

Seperti biasanya, sebelum Mika berangkat untuk latihan iaido, dia menyempatkan diri mampir ke lapangan, mengunjungi teman-temannya.
“ Mika, sebaiknya kau tak perlu kemari setiap hari.” kata Seijuro.
“ he? Nande?”
“ fokuslah untuk latihanmu. Bukankah turnamen akan segera dimulai?”
“ ah, soo. Daijobu. Aku juga hanya mampir kemari. Tak sampai 15 menit. Itu tak akan membuang waktukku, nii chan.”
“ ini adalah kesempatanmu, jadi jangan sia-siakan.”
“ wakatta yo, nii chan. Lagi pula, kau juga lebih tahu seperti apa kemampuanku. Simpai nai yo. Maa, itte kimasu.” Mika pun berpamitan lalu segera pergi meninggalkan mereka.
“ Akashi, memangnya Mika akan mengikuti turnamen apa?” tanya Midorima penasaran.
“ dia terpilih untuk mewakili daerah kita di turnamen bela diri nasional cabang Iaido. Satu minggu lagi dia akan bertanding. Tapi seperti yang kau lihat, dia masih seenaknya saja bermain-main.” jelas Akashi tampak sedikit khawatir.
“ sugoi! Aku sudah tahu dia itu kuat, tapi aku tak menyangka dia akan terpilih.” sahut Aomine yang ikut mendengarkan.
“ ha? Jadi kembaranmu itu, sekuat itu? Aku jadi penasaran. Dia cantik, pintar, dan juga kuat, dan terlebih lagi dia sangat seksi. Ma... Akashi, boleh aku mendekatinya?” kata Haizaki sambil merangkul Akashi. Jelas saja sikap itu membuat Akashi kesal, lebih tepatnya kata-katanya atas Mika.
“ berani kau mengganggunya, maka akan kubuat kau menyesal, Haizaki.” ancam Seijuro. Jelas Seijuro mengeluarkan aura yang dingin kepada mereka semua.
“cih! Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku tak tertarik dengan latihan ini.” Haizaki pun pergi meninggalkan lapangan, seperti biasanya.
“ anak itu, selalu saja seenaknya.” keluh Midorima.
“ ah, dia benar-benar menyebalkan.” tambah Aomine.
“ moi ka, suzukero!” perintah Akashi, mereka pun segera mulai latihan, tak terkecuali Kuroko.

***TBC***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar